Sabtu, 22 Maret 2014

Tinggi Raja, Kawah Putih Ala Sumatera Utara


tinggi raja 1

Jalan-jalan? Ikut coyyy!! Lumayan mengurangi bahkan menghilangkan rasa penat kegiatan kita sehari-hari. Tak lain tak bukan, tentu jalan-jalannya dengan melihat dan mengagumi keindahan alam. Bukan jalan-jalan ke mall, taman ria, taman bermain, pasar malam, dll :mrgreen: Jalan-jalan kali ini ada hubunganna dengan air panas dan perbukitan. Letaknya di Sumatera Utara, kira-kira di sebelah tenggaranya kota Medan. Apa nama tempatnya? Namanya adalah..Tinggi Raja.


Yakk, penampakannya kayak gambar diatas. Kalau gambarnya kurang bagus, harap maklum ya karena diambil pake kamera Handphone. Sebenarnya sih ini tempat wisata yang udah ada dari dulu. Tapi baru ke-expose akhir-akhir ini jadi gak heran banyak yang upload fotonya lagi di Tinggi Raja. Saya sih udah beberapa minggu yang lalu kesana, tapi baru sempat berbagi tulisan sekarang :D

Oke langsung aja kita berangkat bos! Saya berangkat rame-rame, di pandu sama grup penjelajah gitu. Jaraknya lumayan jauh, hampir 100km dari kota Medan. Cukup menantanglah bagi para rider motor kalau pengen kesana. Kenapa saya bilang begitu? Karena selain jaraknya yang jauh, ada trek berbatu plus lumpur yang akan dilalui dalam perjalanan menuju kesana. Kalau mau enak ya naik mobil, tinggal duduk adem ayem ngeliatin sekeliling. Tapi kalau yang pengen mendapat feel berkendaranya, silahkan naik motor.

Jalur yang dilalui menuju Tinggi Raja gak terlalu sulit. Dari Medan kita menuju Amplas – Lubuk Pakam – Dolok Masihul – Galang. Ketika ketemu tugu di perempatan kota Lubuk Pakam, langsung putar setir berbelok ke kanan (arah dolok). Nah gak jauh dari sini (sekitar belasan kilometer) nanti ketemu pertigaan yang kalau belok ke kanan akan menuju arah Galang. Setelah belok kanan, ikuti saja jalannya sampai menuju pertigaan lalu belok ke kiri yang nantinya akan menuju Tinggi Raja. Pertigaan ini sulit menandainya karena gak ada papan yang menunjukkan arah lokasi ke Tinggi Raja. Jadi, sebagai traveller yang baik, gunakan GPS manual (baca: tanya sama penduduk sekitar :mrgreen: )

Dari Lubuk Pakam menuju Galang, jalannya sedikit berlubang. Lubangnya gak jauh beda lah sama aspal kropos yang ada di pinggiran kota Medan :mrgreen: Tapi setelah belok kiri di pertigaan menuju Tinggi Raja, disitulah kendaraan diuji. Yang tadinya beraspal, ban langsung berhadapan dengan jalanan full bebatuan. Kalau bisa sih jangan naik motor matik, kasian motornya. Emang sih bisa aja… tapi bakalan kasihan deh kalau dipake kesana. Jalanan tanjakan terjal, turunan curam, berlumpur, bikin kita harus ekstra hati-hati. Gak jarang juga di kiri kanan jalanan ada jurangnya.
Ada beberapa tanjakan yang tidak bisa dilewati motor dengan berboncengan. Kebetulan saya naik motor, matik pula :D jadi yang saya bonceng saya suruh turun dulu… soalnya bakalan gak tarik. Jadi para boncengers yang pengen kesana harap sabar-sabar aja ya hehe.
Oke setelah 3 jam lebih perjalanan…akhirnya sampai juga. Parkirkan motor di tempat parkir, ngumpul bentar, lalu langsung jalan menuju lokasi. Jalan kaki dari tempat parkir menuju tempatnya gak jauh kok. Cuma naik bukit dikit udah sampai.

tinggi raja 7
Udah sampai di puncaknya,kepala noleh ke kiri dan…. Subhanallah… indah! Airnya biru, ada asap putih yang menandakan kalau itu air panas, pasir-pasirnya.. Wow! Luar biasa ciptaan Yang Maha Kuasa. Setelah makan siang karena capeknya diperjalanan, langsung dilanjutkan dengan sesi foto-foto :mrgreen: Ternyata yang datang rame coy! Mau foto aja susah karena spot-spot yang bagus masih dipake orang lain untuk berpose. Datang pelan-pelan…Salip! langsung ambil foto-foto sekitarnya. Indah sekali… Inilah kawah putih ala Sumatera Utara..
tinggi raja 2
tinggi raja 3
IMG-20131117-01868

Udah puas foto-fotonya, lanjut ke tempat lain. Ternyata dibalik kawah ini ada sungainya. Langsung menuju ke TKP, jalan turun menuruni anak tangga. Anak tangganya gak jauh beda kalau mau pergi ke air terjun Sipiso-Piso. Gak lama menuruni anak tangga, sampailah ke TKP. Tapi masih belum di sungai, masih di atas batu karang besar. Disini banyak orang yang berjualan. Kalau mau ke sungai, turun kagi pake tangga ke bawah. Kebetulan saya liat sungainya banyak orang yang mandi. Rame coooyy… niat mau ke sungainya jadi hilang. Mending duduk istirahat aja diatasnya.

tinggi raja 4

Diatasnya juga ada air panas gitu. Banyak juga yang jadiin spot foto-foto. Yaudah deh saya disini aja, sambil foto-foto :mrgreen: Setelah itu naik lagi ke atas menuju parkiran. Waktu udah sore, jadi kami putuskan untuk segera pulang.
Oke, naik motor, semua udah siap, langsung berangkat menuju Medan. Eeehh gak jauh dari situ ketemu lagi spot cantik. Parkirkan motor lagi, terus menuju ke tempat yang bentuknya macam  kawah gunung berapi tapi edisi super kecil. Dari kawahnya keluar air panas dan asap putih. Widih, emang apa ya? jalan terus kesana 
 dan ternyata….jreng jreng…

tinggi raja 5

Subhanallah… cantik sekali! Airnya biru, gak tau tuh seberapa dalamnya. Airnya terus keluar dari dalam kawah kecil itu. Niat mau pulang, ditahan bentar..foto-foto dulu :mrgreen: Ini salah satu keunikan juga di daerah Tinggi Raja. Tapi di tepi kawahnya sepertinya udah mulai tipis. Jadi mungkin jangan terlalu banyak orang yang menumpuk disitu, apalagi duduk di bibir kawah. Bisa-bisa malah amblas ke dalam….
Tinggi raja pun selesai dijalani. Indahnya lokasi bikin lupa penatnya aktifitas sehari-hari. Nah saya akan coba bagikan berapa biaya kira-kira yang dihabiskan dalam perjalanan ke Tinggi Raja:
  1. Bensin: 40 Ribu Pergi-Pulang. Saya naik motor, kalau naik mobil belum tau biaya bensinnya :D
  2. Parkir: 5 Ribu. Cukup bayar parkir saja di TKP. Gak ada biaya operasional lainnya.
  3. Makan Siang: 10 Ribu. Saya dan teman-teman beli makanan dari Medan. Lebih enak lagi bawa bekal dari rumah karena di Tinggi Raja gak ada yang jual makanan. Yang dijual hanya snack ringan saja.
Gimana? Udah Lumayan murah lah untuk bisa jalan-jalan nikmati alam. Selagi ada kesempatan, kenapa gak mencobanya? Ya nggak? Okelah, selamat berkunjung ke Tinggi Raja. Bagi yang udah pernah, selamat berkunjung lagi ke Tinggi Raja :D
 Bonus: Rame-rame lebih asik

tinggi raja 6
                          Rombongan motor kami ke Tinggi Raja. Bukan geng motor ya

Sumber :
[http://mhdharis.wordpress.com/2013/12/07/tinggi-raja-kawah-putih-ala-sumatera-utara/] 



Jumat, 21 Maret 2014

Di Bawah Lindungan Ka’bah


Sebelumnya saya memosting ini pertamanya saya menonton filmnya, karna filmnya yg begitu sedih, dan saya termotivasi dengan ceritanya sehingga saya teringat kepada kedua orang tua saya yang jauh disana.
Ini lah cerita Novel Dibawah Lindungan Ka'bah:


Novel Di Bawah Lindungan Kabah ditulis oleh Hamka, novel ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, karena mengajak kita untuk tidak membedakan padangan dari segi harta duniawi tapi dari kecintaan patuh pada perintah-Nya. Novel ini menceritakan dua insan yang dilanda asmara dalam suasana tragis, yang satu prihatin sejak kecil yang satunya lagi dilanda sakit yang parah, keduanya meninggal hampir bersamaan pada tempat yang berbeda.
 
Novel kedua Hamka (= Haji Abdul Malik Karim Amarullah) ini pertama kali di terbitkan  Balai Pustaka (1983) hingga cetakan VI. Setelah cetakan VII sampai cetakan terakhir ini diterbitkan Bulan Bintang. “Dengan mengambil tempat bermainya sebagai cerita di negeri Arab dan dengan memajukan falsafah keislaman, roman Di Bawah Lingkungan Kabah ini menjadi suatu roman yang bercorak dan beraliran keislaman.” Demikian pendapat H.B. Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei 1 (Gramedia, 1985; hlm. 46 ). Walaupun dalam soal kemurungan, Di Bawah Lindungan Kabah, masih terasa tak berbeda jauh dalam karya pertamanya, Di Jemput Mamaknya (1930). Namun, dalam napas keislamaan, Di Bawah Lindungan Kabah jauh lebih kuat. Di samping itu, latar tempat kejadian di Mekah itu, ternyata juga sangat mendukung suasana murung dan kepedihan jiwa tokoh utamanya, Hamid.
Jika dibandingkan dengan cerpen panjang Al-Manfaluthi, Al-Yatim, novel Di bawah Lindungan Kabah pun, tampak –sedikit banyak-terpengaruh pula oleh karya pengarang Mesir itu (lihat juga ulasan pada ringkasan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sungguh pun demikian, di dalamnya masih tampak jelas kritik Hamka terhadap adat perkawinan serta sikap para orang tua, yang mengaku islam, tetapi sebenarnya tidak berjiwa islam.

Untuk lebih jelasnya, inilah ringkasannya.
Tanpa memberi tahu siapa pun, Hamid meninggalkan kampungnya menuju Siantar, Medan. Kepergiannya kali ini bukan lagi untuk menuntut ilmu di sekolah, seperti yang ia lakukan beberapa tahun yang lalu. Hamid, ibarat orang sudah “jatuh tertimpa tangga pula”. Setelah Haji Jafar, orang yang selama ini banyak menolongnya, berpulang ke rahmatullah, tak lama kemudian ibu kandung yang dicintainya menyusul pula ke alam baka. Hamid kini tinggal sebatang kara. Ayahnya telah meninggal ketika ia berusia empat tahun. Dalam kemalangannya itu, mamak Asiah dan anaknya, Zainab, tetap menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Oleh karena itu, Mak Asiah begitu yakin terhadap Hamid untuk dapat membujuk Zainab agar mau dikawinkan dengan saudara dari pihak mendiang suaminya. Dengan berat hati, Hamid mengutarakan maksud itu walaupun yang sebenarnya, ia sangat mencintai Zainab. Namun, karena Zainab anak orang kaya di kampung itu, ia tak berani mengutarakan rasa cintanya itu.
Setibanya di Medan, Hamid sempat menulis surat kepada Zainab. Isi surat itu mengandung arti yang sangat dalam tentang perasaan hatinya. Namun, apa mau di kata, ibarat bumi dengan langit, rasanya tak mungkin keduanya bersatu. Meninggalkan kampung halamanya berikut orang yang dicintainya adalah salah satu jalan terbaik. Begitu menurut pikiran Hamid.

Dari Medan, Hamid meneruskan perjalanan ke Singapura dan akhirnya ia sampailah di tanah suci, Mekah. Di Mekah ia tinggal dengan seorang Syekh, yang pekerjaanya menyewakan tempat bagi orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji.
Telah setahun Hamid tinggal di kota suci itu. Pada musim haji, banyaklah orang datang dari berbagai penjuru. Tanpa di duganya, teman sekampungnya, menyewa pula tempat Syekh itu. Orang yang baru datang itu bernama Saleh, suami Rosna, yang hendak menuntut ilmu agama di Mesir setelah ibadah haji selesai.

Dari pertemuan yang tak disangka-sangka itu, ternyata banyak sekali berita dari kampung halaman-terutama berita tentang Zainab-yang sejak di tinggalkan Hamid dan tidak jadi di kawainkan dengan saudara ayahnya itu, kini sedang dalam keadaan sakit-sakitan. Hamid sangat senang hatinya mendengar kabar itu, tetapi ia harus menyelesaikan  ibadah hajinya yang tinggal beberapa hari. Ia bermaksud segera pulang ke kampung. Sementara itu Saleh, teman Hamid, segera mengirim surat kepada istrinya. Surat Saleh diterima istrinya yang segera pula meberitahukannya kepada Zainab. Alangkah senang hati Zainab mengetahui bahwa orang yang di cintainya ternyata masih ada. Namun, penyakit yang diterima Zainab makin hari makin parah. Dengan segala kekuatan tenaganya ia menulis surat untuk orang yang dikasihinya (hlm.71).
Surat yang dikirim Zainab diterima Hamid. Namun, rupanya isi surat itu sangat mempengaruhinya. Dua hari setelah itu, bersmaan keberangkatan para jemaah haji ke Arafah guna mengerjakan wukuf, kesehatan Hamid terganggu. Walaupun demikian, Hamid tetap menjalankan perintah suci itu.

Sekembalinya Hamid dari Arafah, suhu badanya semakin tinggi. Apalagi di Arafah, udaranya sangat panas. Hamid tak mau menyentuh makanan sehingga badanya menjadi lemah. Pada saat yang sama, surat dari Rosna di terima Saleh yang menerangkan bahwa Zainab telah wafat. Kendati Hamid dalam keadaan lemah, ia mengetahui bahwa ada surat dari kampunganya. Firasatya begitu kuat pada berita surat yang di sembunyikan Saleh. Hamid menanyakan isi surat itu. Dengan berat hati Saleh menerangkan musibah kematian Zainab. “O, jadi Zainab telah mendahului kita?” tanyanya pula (hl.77).

Ketika akan berangkat ke Mina, Hamid tak sadarkan diri. Temannya, Saleh, terpaksa mengupah orang Badui untuk membawa Hamid ke Mina. Dari situ mereka menuju Masjidil Haram-kemudian mengelilingi kabah sebanyak tujuh kali. Tepat diantara pintu kabah dan batu hitam, kedua orang Badui itu diminta berhenti. Hamid mengulurkan tangannya, memmegang kiswah samba memanjatkan doa yang panjang: “Ya Rabbi, Ya tuhanku, Yang maha Pengasih dan Penyayang!” Semakin lama suara Hamid semakin terdengar pelan. Sesaat kemudian, Hamid menutup matanya untuk selama-lamanya.

Sumber 
[http://awan965.wordpress.com/2012/10/28/ringkasan-novel-di-bawah-lindungan-kabah]